TENDER FIVE CURRENT UNTUK ASIAN GAMES 2018 ‘BERMASALAH’, FADLI ZON : JIKA TERBUKTI, HARUS DIPROSES SESUAI HUKUM YANG BERLAKU !

0
165

METROPERS.COM ,JAKARTA (10/08/2018) Asian Games 2018 Jakarta Palembang kurang sepekan lagi. Indonesia sebagai tuan rumah nampak antusias mempersiapkan semua kebutuhan penyelenggaraan even olahraga terbesar se asia ini. Baik Venue yang sudah seratus persen rampung, sarana dan prasarana pendukung maupun tempat penginapan untuk 15 ribu atlet dan official dari 40 negara peserta dan kebutuhannya. Semuanya sudah siap. Termasuk kesiapan transpotasi dan keamanan yang melibatkan semua unsur keamanan dari TNI, Polri, dan Satpol PP.

Sukses dan keberhasilan sebagai tuan rumah Asian Games (yang kedua) bagi Indonesia ini tentu menjadi pertaruhan nama baik bangsa Indonesia di mata dunia internasional. Baik suskses penyelenggaraan maupun sukses prestasi. Berbagai atribut dukungan bertulis: Energy Of Asia-pun menjadi spirit yang mewarnai semua sudut dua kota penyelenggara, baik DKI Jakarta dan Palembang.

Namun disayangkan, di balik kesiapan Asian Games 2018 yang menelan biaya tidak kurang dari Rp. 5,3 Triliun ini banyak menyimpan polemik bahkan potensi pelanggaran hukum yang hingga saat ini terkesan ditutup rapat oleh INASGOC (Indonesia Asian Games Organizing Committee). Indikasi polemik ini mulai terendus sejak mundurnya beberapa petinggi INASGOC meski tanpa sebab yang jelas dan juga petinggi yang diberhentikan dengan hormat, hingga menjadi viral diberbagai pemberitaan dan media sosial.

Tragisnya even yang seharusnya menjadi kebanggaan bangsa ini juga dinodai oleh kehadiran Five Currents, EO dari Amerika Serikat yang menghandel langsung acara Openning dan Clossing Ceremony Asian Games 2018. Hadirnya Five Currents dengan kontrak Rp. 800 milliar secara esklusif tanpa melalui tender terbuka, tentu tidak seharusnya terjadi pada Even sebesar Asian Games. Selain menguatkan adanya pelanggaran hukum juga mengundang polemik yang bisa mencoreng nama baik Indonesia dimata internasional

Serapih apapun ditutupi, bau busuk pasti akan tercium juga. Seperti yang terendus dan viral di kalangan media sosial belakangan ini. Perdebatan panas para nitizen di instagram (lihat foto) yang mempertanyakan Ketua INASGOC Erick Tohir dan Art Director Wisnu Utama seputar kehadiran EO Asing, cukup panas dan memerahkan telinga.

Tidak sedikit Nitizen mempertanyakan bagaimana proses Five Currents bisa hadir dan dipercaya sebagai EO untuk openning clossing ceremony Asian Games 2018? Kapan INASGOC melakukan tender dan siapa saja vendor yang turut diundang? Mahalnya kontrak Five Currents bisa jadi penyebab mahalnya tiket acara pembukaan dan penutupan Asian Games yang dipatok panitia dari Rp. 750 ribu hingga Rp. 2 juta?

Penunjukan Five Current Rendahkan SDM Lokal
Polemik ini hampir tak terbendung dan meledak kepermukaan, setidaknya saat INASGOC menggelar jumpa pers di kawasan Senayan Jakarta pada 27 Mei 2018 lalu. Penyebabnya, pernyataan Art Director Openning dan Clossing Ceremony Asian Games 2018 Wisnu Utama. Dihadapan ratusan jurnalis secara terbuka menyatakan proses penunjukkan Five Currents secara eklusive pada awal tahun 2017 oleh Tim Kecil INASGOC dengan pertimbangan kualitas disamping karena saat ini SDM lokal (Indonesia) dianggap belum mampu.
“Selain karena Five Currents dinilai sukses pada Olympiade Los Angles, Amerika Serikat, juga karena SDM Indonesia saat ini belum selevel Asian Games apalagi Olimpiade,’’ kata Wisnu utama yang juga Direktur Utama NET TV ini.

Sontak, penjelasan terkait kejanggalan pemenangan tender upacara pembukaan dan penutupan Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang itu pun diwarnai debat cukup keras dari salah seorang jurnalis dari media nasional di Jakarta yang mempertanyakan keberadaan EO asing yang menurutnya tidak perlu. Terlebih proses tender dan pemenangan Five Currents yang dilakukan secara diam-diam alias tidak transparan. Suasana pun mulai riuh dan berujung “diusir”nya si penanya dari ruangan karena yang bersangkutan dianggap mengganggu jalannya acara.

Sebagai anak bangsa–menurut Si Jurnalis–tidak seharusnya INASGOC merendahkan potensi dan martabat anak bangsa sendiri yang seharusnya mendapat kesempatan untuk bisa bersaing dikancah internasional. Bukan malah mematikan.

Seperti tak puas, Jurnalis penanya dengan suara keras dan lantang tersebut pun maju kedepan sambil menegaskan bagaimana seharusnya INASGOC bisa dipercaya negeri ini untuk mengamankan kepentingan bangsa Indonesia. Bukan kepentingan EO asing.

“INASGOC harusnya belajar dari kesusksesan penyelenggraaan Asian Games di Seoul Korea Selatan dan Olympiade Beijing, Tiongkok. Kedua negera tersebut sukses menggelar even besar yang sama tanpa melibatkan vendor asing. Harum sukses dan prestasiya dipersembahkan oleh anak bangsanya sendiri bagi negaranya. Bagaimana dengan Indonesia? Bisakah Asian Games 2018 ini kita banggakan, sementara semua tahu yang mengerjakan bangsa lain,’’ tegas Si Jurnalis, berapi-api hingga diminta paksa pihak security panitia untuk meniggalkan ruangan Konferensi Pers.

Sehari sebelumnya, kelompok yang menamakan diri dari “Komunitas Seni Merah Putih” meenggelar press kon dan mengirim pernyataan sikap bahwa Asian Games 2018 harus menjadi ruang bagi pekerja seni Indonesia untuk menunjukkan pada dunia, akan potensi bangsa ini. Mereka juga berharap agar vendor-vendor lokal mendapat tempat dan prioritas kesempatanya pada even olah raga terbesar se asia ini.

“Itulah kesedihan kami. Asian Games 2018 ini harusnya menjadi ajang ekplorasi seniman-seniman kita. Bagaimana bisa orang asing memahami cemestri pekerja seni Indonesia. Yang bisa mengertai budaya adat dan corak kesenian Indonesia itu yang orang Indonesia sendiri. Bukan Orang asing,’’ tukas Bens Leo, Sang Kordinator.

Parahnya, bagaimana bisa perusahaan asing yang tidak punya kantor di Indonesia mendapat kewenangan sedemikian besar sehingga bersama INASGOC secara tidak langsung telah merendahkan martabat Vendor bangsa sendiri. Terbukti Five Currents memiliki kewenangan dengan leluasa menentukan siapa saja Vendor yang dipilih sesuka hatinya untuk bisa bekerjasama dengannya. Selanjutnya bisa ditebak, dan sungguh menyedihkan, semua Vendor lokal seperti di anak tirikan,. Karena Five Currents hanya memilih Vendor dari kelompok atau kroninya.

Reaksi Dari Politisi DPR
Polemik seputar Asian Games 2018 ini juga menuai reaksi dari Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Menurutnya, dirinya sudah mencium bau sumir tidak sedap disekitar Asian Games. Akan tetapi politisi Gerindera ini tetap mengajak semua untuk mendukung suksesnya penyelenggaraan Asian Games 2018. “Saya sudah mendengar dari berbagai media sosial yang viral. Saya tahu ada yang bermasalah terkait keberadaan EO asing di Asian Games termasuk mundurnya beberapa petinggi INASGOC.,’’ terang Fadli Zon saat dikonfirmasi di Komplek Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (7/18)
Menurut Fadli Zon, even olahraga sebesar Asian Games ini seharusnya menjadi momen baik bagi kita (Indonesia) untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia bisa. Ini loh Indonesia. Ini loh kita, bangsa yang besar dan bisa. “Jadi, kalo kita mampu kenapa mesti pakai EO asing segala. Dimana kita harus bangga kalo bukan anak bangsa sendiri yang mengerjakan,’’ timpalnya.

Untuk itu, lanjut, Fadli Zon, jika terbukti ada pelanggaran dalam proses tender yang dilakukan secara tidak transparan ya harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Masyarakat bisa melaporkan ke KPK atau pihak berwenang lainya.

“Uang Rp. 5,3 Triliun itu kan tidak sedikit. Apalagi saat ini keuangan Negara devisit. Makanya Ketua Umum Gerindera Pak Prabowo saat itu sempat mengkritisi anggaran untuk Asian Games ini karena nilainya cukup besar sekali. Kalau nggak salah anggaran yang diajukan sebelumnya hampir 7,5 Triliun. Karena itu kami kritisi dan dikoreksi menjadi Rp. 5,3 Triliun,’’ pungkas Fadli Zon.(mnt)