BINA KAMTIBMAS MENGGANDENG FKPPBM,POKDAR DAN KARANG TARUNA TAMBUN SELATAN GELAR SOSIALISASI KONFLIK SOSIAL DAN ANTISIPASI RADIKALISME

0
115

METROPERS.COM, TAMBUN (19/08/2018) Konflik Sosial dan paham Radikalisme yang terjadi di daerah menunjukkan masih tingginya kerentanan toleransi masyarakat dalam menghadapi perbedaan.

Hal itu diperparah dengan adanya euforia kebebasan pasca-reformasi yang cenderung tanpa batas.
“Keberagaman harusnya bisa dikelola oleh pemerintah daerah untuk menguatkan persatuan.

Untuk mengantisipasi konflik sosial , paham radikalisme dan terorisme di masyarakat dan lingkungan sekitar        Bina Kamtibmas bekerja sama
FKPPBM, Pokdar dan Karang Taruna wilayah Tambun Selatan untuk mengedukasi masyarakat dengan memberikan Pembekalan mengenai Kamtimas dengan peserta sebanyak 70 orang membawakan tema “Optimalisasi Kamtibmas dalam menghadapi Konflik Sosial dan Radikalisme untuk menciptakan Situasi Kondusif di wilayah Tambun selatan kab. Bekasi”. pada hari minggu (19/08/2018) siang, bertempat di Gor PGRI samping Lapangan Cobra Tambun Selatan.

Kegiatan dibuka dan di awali langsung dengan sambutan oleh Ketua FKPPBM Tambun Selatan Heriyanto dihadiri oleh Lurah setempat  Setia Darma, Iptu Arif perwakilan Polsek Tambun Selatan, AKP Chairul Shaleh perwakilan Polda, dan tokoh masyarakat.

Dalam memberikan paparannya AKP Chairul Saleh menyampaikan beberapa materi, yaitu :
Upaya Polri terhadap konflik sosial dan antisipasi radikalisme di wilayah hukum Polda metro jaya

“Bentuk bentuk konflik sosial ada 3 yaitu konflik horizontal (konflik antara individu dengan kelompok yang kedudukan yg relatif sama), konflik vertikal (konflik antar komponen masyarakat yg memiliki struktural), konflik diagonal ( konflik karena tidak merata SDM di organisasi sehingga muncul lah konflik esktrem),”ujarnya.

Adanya penyebab konflik sosial seperti, Perbedaan pendirian dan perasaan antara individu dan atau kelompok yg semakin tajam, Perubahan sosial yg terlalu cepat,
Perbedaan kebudayaan, Benturan antara individu ataupun kelompok.

Dalam Penanganan konflik sosial harus mengetahui, Identifikasi,
Pencegahan, Penghentian, Pemulihan.

Selain itu dilakukan juga Kegiatan permainan yaitu menempatkan paku sebanyak 20 biji berdiri diatas 1 biji paku ( inti pelajarannya memupuk kekompakan dan mengetahui konflik dilingkungan / skup yg kecil.

Mengenai perkembangan jaringan teror di wilayah jabodetabek kita harus bisa mengantipasinya.

Chairul memberikan pengertian tentang radikalisme, paham yang dibuat oleh kelompok yang menginginkan perubahan atau perbaharuan sosial dan politik dratis menggunakan cara kekerasan.

Dan juga Terorisme itu adalah sekelompok orang yang memberikan paham yang menggunakan kekerasan untuk menciptakan ketakutan dalam usaha mencapai tujuan,”tuturnya.

Adanya ciri-ciri orang yang terpapar paham radikal dunia maya seperti Mendadak anti sosial, Mengalami perubahan sikap emosional,
Memutus komunikasi dengan orang tua dan keluarganya, Menampakkan sikap pandangan dan tidakan keagamaan yang berbeda dengan kebanyakan masyarakat.

“Semoga Sosialisasi ini bisa disebarluaskan kepada rekan-rekan didareah masing-masing untuk mengantisipasi konflik sosial dan radikalisme,”tutup Chairul. (manto).