KONTRAK FIVE CURRENT DIPERTANYAKAN! LIGHTING OPENING CEREMONY ASIAN GAMES 2018 KUALITASNYA DINILAI MASIH DIBAWAH STANDART

0
85

METROPERS.COM, JAKARTA (19/08/2018)
Kemeriahan openning ceremony Asian Games 2018 Jakarta – Palembang yang baru saja digelar di Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (18/08) menyisakan gempita segaligus pertanyaan. Pada satu sisi acara yang melibatkan 5000 lebih pekerja seni Indonesia dan dihadiri pejabat penting perwakilan negara se Asia itu cukup mengundang apresiasi kagum masyarakat Indonesia yang menyaksikan. Namun pada sisi teknis sesungguhnya ada persoalan pada masalah pencahayaan yang bagi kacamata awam belum tentu tahu.

Hal ini diuangkap oleh Lang Lang Yudha Ikrana (34 tahun) seorang Art Director profesional sebuah production di Jakarta. Menurutnya, dua jam pembukaan even olah raga terbesar se Asia yang dimulai pukul 19:00 WIB itu bisa lebih spekatakuler dan mempesona kalau teknis pencahayaannya lebih bright dan maksimal.

“Saya tidak tahu apa yang ada dalam mainsheet EO atau production yang menggarap. Kenapa openning ceremony sekelas Asian Games tidak berani menggunakan kombinasi pencahayaan yang lebih interaktif. Akibatnya, seperti yang bisa kita lihat, tampak gelap temaram mendominasi,’’ terang Yudha yang sudah menggarap puluhan TVC, Sinetron dan film.

Secara konsep, lanjut Yudha, apa yang di sajikan oleh koreografer dan konfigurasi tarian berbasis budaya untuk menggambarkan keberagaman Indonesia, memang bagus dan menarik. Namun, detail keindahan kostum dan gerak konfigurasi silih berganti menjadi tidak tampak. Apalagi dari kejauhan, keindahannya menjadi samar akibat pencahayaan yang kurang maksimal.
“Padahal saat ini momennya di era milenial. Harusnya lebih berani dalam pencahayaan. Publik hanya tahu dan menyaksikan melalui layar TV. Menurut saya sangat teramat kurang cahaya, bikin mata kurang nyaman. Resikonya, kostum dan konfigurasi tarian yang harusnya bagus menjadi tidak nampak detail keindahannya. Seperti ada yang salah. Bisa jadi Art Director atau penanggung jawabnya memang tidak memiliki keberanian atau bahkan memang keterbatasan kemampuan-nya,’’’ tegas Yudha.

Hal yang sama juga diungkap oleh Dwi Ermanto (56 tahun) Director Of Pothograpy (DOP) profesional di Jakarta. Menurutnya, apa yang disajikan oleh Five Current sebagai EO yang meng-hayer tidak sebanding dengan besarnya nilai kontrak Rp. 800 miliar yang harus dibayarkan kepada mereka.
“Kalau hasilnya seperti itu, menurut saya, kualitas Five Current tidak sebanding dengan nama besar dan bayaran mereka. Di banding dengan EO lokal sekalipun, kalau hasilnya seperti itu saya kira di Indonesia banyak yang bisa mengerjakan lebih baik,’’ tegas Dwi Ermanto yang pernah dipercaya terlibat even sejenis di Korea, India, Thailand dan Kamboja.

Sesungguhnya, lanjut Dwi Ermanto, kinerja Five Current tertolong oleh konfirgurasi seni dan tarian serta costum 5000 pekerja seni dibungkus kemeriahan kembang api. Itu saja. Karena Indonesia di mata dunia, melalui budayanya saja sudah cukup membuat berdecak kagum. Seharusnya dengan hadirnya EO asing (Five Current), openning ceremony Asian Games 2018 kekaguman terhadap kretifitas seni dan budaya Indonesia bisa lebih spektakular.
“Five Current kan didatangkan tidak hanya sebatas konsep. Tapi juga hadir dengan tols dan properti teknologi Amerika. Dikontrak mahal, mana hasilnya? Efek cahaya juga bisa disebut under. Berkesan canggih juga nggak? Hanya ada bulan besar diatas lanscape panggung besar yang justru membuat kesan GBK sempit? Lihat saja mereka seperti berdesakan. Lalu apa yang bisa dibanggakan? Apa bedanya dengan Sea Games Palembang, atau even lain sebelumnya dari perspektif teknologi? Kalau hanya seperti kemarin, mohon maaf apanya yang bisa dibanggakan. SDM Indonesia juga lebih dari bisa kalau cuman begitu,” tukas Dwi.

Terlepas apresiasi dan kritik positif dari praktisi panggung dan entertain Indonesia, dibandingkan dengan Olimpiade Beijing, dan Asian Games Korea, opening ceremony Asian Games 2018 bisa dibilang kalah spektakuler.

“Selain berkesan etnik, kita harusnya bisa belajar dari Beijing dan Korea. Etnik dapat, canggih dan modern dapat, bayond future (masa depan) dapat. Itu baru spektakuler. Sedangkan di openning ceremony Asian Games 2018 kita, hanya dapat etnik, budaya, dan kemeriahannya. Sementara kesan canggih, sebagai negara maju, modern dan terdepan dalam kemajuan, yang bisa buat kita bangga sebagai bangsa, yang harusnya bisa diharapkan dari sentuhan Five Current ternyata kita tidak dapat,’’ papar Dwi Ermanto.
Sementara itu, secara terpisah Ati Suganda, Koreografer Swara Mahardika yang berpegalaman even kolosal sejenis, saat ditemui mengingatkan kita untuk bisa memetik pelajaran berharga dari dari kontrak Five Current sebagai EO asing. Sebagai bangsa, tentu yang lebih mengerti adat, budaya, tarian, lagu dan kebiasaan masyarakat Indonesia itu ya orang Indonesia. Tidak mungkin orang asing bisa lebih mengerti dari kita yang asli Indonesia. Kalau kita mau belajar atau study comparasi, cukup kita datang, melihat, membandingkan dan mempelajari, bukan mengkontrak EO asing dengan biaya besar. Eman..eman,’’ujar Ati pada suatu kesempatan di Jakarta.
Menjawab apresiasi masyarakat, Art Director Openening Ceremony Asian Games 2018 Wisnu Utama mengatakan, bahwa pihaknya sudah bekerja keras setidaknya selama tiga bulan terakhir, menggali ide dan kreatifitas. Totalitas kerja untuk mengharumkan nama bangsa.
“Itu hasilnya. Saya kembalikan lagi yang berhak menilai ya masyarakat Indonesia yang menonton,’’ ujar Wisnu Utama saat on wawancara dengan Radio Elshinta, seusai acara.

Betapapun, dari apresiasi praktisi diatas, setidaknya pernyataan Wisnu Utama bahwa INASGOC sengaja menghadirkan Five Current dengan kontrak Rp. 800 miliar hanya untuk dua jam openning clossing dengan anggapan SDM Indonesia belum selevel Asian Games apalagi Olimpiade, sangatlah berlebihan dan tidak proporsional.

Selain merendahkan martabat anak bangsa, hadirnya Five Current juga menutup potensi dan kesempatan industri kreatif lokal pada even internasional. Apalagi dua jam opening ceremony Asian Games 2018, Five Current terbukti gagal menghadirkan harapan yang spektakuler.(Mnt)