APIKI MENDESAK PENGUATAN KEMITRAAN GLOBAL UNTUK MEMBATASI PEMANASAN GLOBAL KURANG DARI 1,5°C

0
26

METROPERS.COM ,(10/10/2018) Upayamembatasi pemanasan global kurang dari 1,5°C membutuhkan perubahan nyata pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, dan tentunya berimplikasi pada strategi nasional implementasi NDC Indonesia, demikian dikatakan Mahawan Karuniasa, Ketua Umum Jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia ( APIK Indonesia Network ). Dinyatakan juga bahwa berbagai perbedaan tingkat transisi hutan, kateristik ekologis antar pulau, disparitas ekonomi antar wilayah, dan perbedaan kondisi demografi serta dampaknya pada lingkungan, seperti kebutuhan air, pangan, dan energi, perlu menjadi pertimbangan dalam menterjemahkan hasil the Special Report on Global warming of 1,5°C (SR15) di tingkat nasional maupun subnasional.

Berdasarkan dokumen First Nasionally Determined Contribution (NDC), pada kondisi businessman as usual (BAU) emisi gas rumah kaca (GRK) mencapai 2,869 giga ton CO2e (equivalent) di tahun 2030 atau dengan pertambahan emisi tahunan sebesar 5% untuk periode 2010-. 2030 Total emisi GRK diproyeksikan berkurang menjadi 2,034 giga ton CO2e (reduksi 29% dari BAU) untuk unconditional mitigation scenario dan 1,787 giga ton CO2e (reduksi 38% sampai dengan 41% dari BAU) dengan conditioner mitigation scenario. NDC Indonesia terdiri dari 5 NDC sektor, yaitu energi, sampah, industrial processing and product used (IPPU), pertanian dan kehutanan. Total reduksi emisi yang ditargetkan pada tahun 2030 yaitu 0,834 giga ton CO2e (29%) untuk unconditional mitigation scenario dan 1.081 giga ton CO2e (38% sampai dengan 41%) dengan conditioner mitigation scenario. Target reduksi emisi dalam implementasi NDC pada periode 2020-2030 memiliki berbagai tantangan baik pada tingkat nasional dan subnasional.

Laporan The Third Nasional Communication (TNC) of Indonesia mencatat bahwa total emisi CO2e di tahun 2014 sebesar 1.844 giga ton, atau setara dengan pertambahan emisi tahunan aebesar 13 % tahun pada periode 2010 – 2014, lebih tinggi dari perkiraan 5% tahun untuk kondisi business as usual. Sebagai konsekuensinya, pada periode tahun 2015 – 2030, Indonesia perlu menjaga agar laju emisi GRK tahunannya berada pada tingkat 1 % untuk mencapai target unconditional scenario dengan reduksi sebesar 29%. Sedangkan untuk mencapai target reduksi emisi 41% dibutuhkan laju emisi GRK sebesar – 1% (minus 1%) dalam conditional scenario. Artinya puncak emisi GRK nasional perlu tercapai pada periode implementasi NDC di tahun 2020 – 2030 untuk mampu berkontribusi pada upaya membatasi panasan global kurang dari 1.5°c. Menggeser “beban” sektor kehutanan pada sektor energi dalam NDC Indonesia akan menjadikan upaya yang lebih besar dalam mengendalikan perubahan iklim menjadi rasional. Disisi lain, restorasi ekosistem hutan jelas memberikan manfaat pada masyarakat, antara lain menjaga keanekaragaman hayati, menjaga dan memperbaiki sumber daya alam serta jasa lingkungan.

Mempertimbangkan tantangan saat ini dan yang akan datang dalam menghadapi beberapa tahun kedepan yang sangat penting bagi umat manusia, pemerintah Indonesia bersama seluruh pemangku kepentingan perlu membangkitkan kesadaran dan meningkatkan kapasitas nasional dan subnasional dalam menghadapi perubahan iklim.Para ahli perubahan iklim Indonésia juga mendesak penguatan kemitraan global terutama untuk mendukung negara berkembang dalam implementasi NDC dalam konteks Paris Agreement.

APIK Indonesia Network adalah jaringan Ahli Perubahan Iklim dan Kehutanan Indonesia, termasuk para praktisi dengan cakupan kegiatan meliput bidang pendidikan .penelitian serta pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.
APIK Indonesia Network beranggotakan 472 ahli dan praktisi yang berasal dari 101 universitas, lembaga penelitian,institusi pelatihan,kementrian,pemerintah daerah,dan entitas terkait lainnya dari seluruh Indonesia.(lelly)