PERSATUAN INTELEGENSIA KRISTEN INDONESIA (PIKI) MENGADAKAN DIES NATALIS KE 55 DAN PERAYAAN NATAL 2018

0
21

METROPERS.COM,(19/12/2018)

Persatuan Intelengensia (PIKI ) pada tahun 2018 ini berusia 55 tahun, dan untuk itu DPP PIKI,  Rabu malam (19/12/2018) bertempat di Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Salemba Raya, Jakarta Pusat, mengadakan Ibadah Syukur Dies Natalis PIKI ke-55. 

Ibadah syukur yang bertemakan “Memperkokoh Persatuan Bangsa Ditengah Kemajemukan Demi Mensukseskan Pemilu 2019”, sebagai implementasi dari tema organisasi “Kebenaran Meninggikan Derajad Bangsa” (Amsal 14:32), dihadiri oleh sekitar 100 an orang.

Diantaranya unsur DPP PIKI periode 2015-2020, selain Ketua Umum Baktinendra Prawiro, M.Sc., MH, dan Sekretaris Umum Audy W.M.R. Wuisang, S.Th., M.Si, hadir Waketum Theofransus Litaay, SH., LLM., Ph.D, Waketum Dr. Badikenita Puteri Sitepu, SE., M.Si, dan sejumlah pengurus DPP PIKI lainnya. Turut hadir Sekretaris Umum MPH PGI, Ketua Umum PP GMKI, serta sejumlah pengurus PP GMKI lainnya, perwakilan DPP GAMKI, Keluarga Alumni GSKI Alex M. Paath, tokoh cendekiawan kristen, dan tamu undangan lainnya.

Ibadah syukur dipimpin oleh Liturgos Pdt. Ester, dan pelayan firman disampaikan oleh Pdt. Albertus Patty. Ibadah syukur diisi juga oleh kesaksisan pujian oleh Randy Lapian dan Otlief Waas.

Pdt. Albertus Patty, akrab disapa Pdt. Berti, dalam khotbahnya mengemukakan bahwa saat ini kristen di Indonesia sedang mengalami 4 krisis, yakni : krisis keesaan gereja, krisis keindonesiaan, krisis ekologi, krisis pekerjaan. 

“Apa respon PIKI atas berbagai krisis tersebut?” demikian pertanyaan retoris Pdt Berti. Lebih lanjut Pdt. Berti menjelaskan “Kalo PIKI tidak bisa menjawab, orang-orang akan mencari jawaban sendiri ke berbagai sumber, bisa jadi ke dukun, atau berkomentar Yah sudah kita hanya berdoa saja, biar Tuhan yang bekerja membereskan”.

Pdt. Berti mengutip pemikiran tokoh reformator Agustinus, mengungkapkan bahwa ada dua istilah dalam kata ‘inteligensia’ yang selintas memiliki makna sama, namun sesungguhnya berbeda.

Yakni : scientia (ilmu tentang kehidupan dunia), dan sapientia (ilmu tentang Tuhan), namun demikian keduanya dibutuhkan, dan saling berkaitan. Orang yang mampu menggabungkan keduanya, mengsinergikan keduanya, itulah orang yang memiliki inteligensia.

Ketua Umum PIKI Baktinendra dalam kata sambutannya menjelaskan selintas sejarah kelahiran PIKI, dan perjalanan keorganisasian PIKI yang hingga saat ini baru melakukan 5 kali kongres, sekalipun usianya sudah lebih dari 50 tahun. 

“PIKI sekalipun sudah berusia 55 tahun, tetapi baru melaksanakan kongres 5 kali, itu berarti rata-rata kepengurusan DPP PIKI 10 tahun, jadi saya punya kesempatan untuk menjadi Ketua Umum juga selama 10 tahun” kelakar Bakti yang adalah putra sulung mantan Menteri Keuangan era Orde Baru Radius Prawiro.

Namun sekalipun demikian sejarah keorganisasian PIKI, Bakti berkomitmen untuk tidak ‘meneruskan’ kesejarahan seperti itu. “Saya tidak ingin PIKI kembali mengalami kongres seperti yang sudah-sudah, saya tidak mau menjadi Ketua Umum selama 10 tahun” ungkap Bakti yang saat ini berjuang menjadi Caleg DPR RI dari PDI Perjuangan daerah pemilihan Jawa Timur VI.(Mnto)