ARJ BERI DUKUNGAN DAN APRESIASI KEPADA POLRI UNTUK MENGUNGKAP KASUS 21-22 MEI 2019

0
81

 

METROPERS.COM, JAKARTA (04/06/2019)

ARJ (AlIansi Relawan Jokowi) bersama beberapa organ relawan menggelar aksi damai dalam memberikan suporter kepada POLRI dan SAVE KAPOLRI dan membentangkan spanduk Panjang sekitar 30 meter di depan Gedung Sejarah Kapolri jl. Trinojoyo no.3 Jakarta selatan, Selasa, (04/06/19)

Lisman Kordinator aksi ARJ mengajak masyarakat untuk memberikan dukungan penuh kepada TNI dan Polri agar dapat mengusut tuntas dalang dari aksi kerusuhan 21-22 Mei 2019.

“Berikan apresiasi dan dukungan sepenuhnya kepada TNI dan Polri agar mereka dapat melakukan penindakan yang tegas kepada semua yang terlibat dalam kegiatan kericuhan, termasuk otak dibalik kegiatan biadab tersebut,” kata Lisman di Jakarta, Selasa.

Lisman mengatakan TNI-Polri telah berdarah-darah dan lelah, dicaci maki di fitnah dalam menangani aksi kerusuhan tersebut. Namun, mereka tetap setia menjaga keamanan negara.

Menurut Lisman, Polri juga sudah memiliki beberapa temuan yang mengarah kepada kesimpulan bahwa ada otak besar yang merancang semua kerusuhan ini dan mereka mempunyai tujuan yaitu ekonomi dan politik.

Ditempat lain,, wawancara dengan Kordinator ARJ, Aidil Fitri mengatakan
Save Polri adalah bentuk dukung dari kami kepada Polri dan TNI yg mana dalam hal ini Polri lebih di pojokan, padahal kita tahu Polri sudah bertindak sesuai konstitusi.

Aidil Fitri sebagai kordinator ARJ dan Ketum Foreder mendukung penuh agar kapolri pak Tito jgn ragu, tetap tegas bahwa apa yg beliau lakukan saat ini sudah benar, yang mau makar harus di tumpas sampai ke akar-akar nya jangn biarkan tumbuh berkembang, rakyat Indonesia sudah jenuh muak dengan para provokator biang kerusuhan di Jakarta.

TNI dan Polri harus tetap solid dan kuat karena banyak provokator yg mencoba memecah belah antar TNI dan Polri.

Bisa di bayangkan apa yg terjadi di tgl 21 dan 22 mei itu kalo TNI dan Polri tidak solid.

Karena saatnya rakyat bergerak mendukung Polri dan TNI.

“Jangan ragu segera tangkap dalang kerusuhan 21-22 Mei”.ujar Aidir Fitri

Sementara itu Haidar Alwi selaku Penanggung jawab dari ARJUN mengungkapkan dalam melihat kenyataan yang ada saat ini, hati kita menjadi miris ketika melihat segelintir orang yang konon dikatakan sebagai tokoh namun justru lebih terlihat sebagai provokator jalanan yang tidak berpendidikan.

Menggunakan atau memakai kalimat yang provokatif untuk memberi spirit positif guna memotivasi seseorang agar dapat bangkit dari keterpurukan adalah salah satu dari sekian banyak contoh positif. Karena, rakaian kata provokatif itu digunakan atau dipakai untuk saling menguatkan antara satu dengan yang lainnya secara baik dan benar.

Tetapi, yang terjadi saat ini justru segelintir orang yang katanya ‘tokoh’ malah merangkai kalimat demi kalimat dengan sengaja untuk memprovokasi orang melakukan tindakan anarkis dan brutal seperti yang terjadi pada kerusuhan ‘ByDesign’ bulan Mei lalu.

Ironisnya, para provokator jalanan ini semakin menunjukkan kebodohannya. Dimana, saat ini mereka berusaha mencuci tangannya dengan mencari kambing hitam atas kerusuhan yang mereka ciptakan. Salah satunya, mereka menggunakan logika sesaat yang sesat dengan mengkambing hitamkan Kapolri. Dengan tujuan, agar tercipta opini di masyarakat bahwa; aksi anarkis dan brutal pada Mei lalu dipicu oleh tindakan represif aparat kepolisian. Dengan harapan, masyarakat dapat dengan mudah percaya begitu saja. Sehingga, pada akhirnya mereka dapat menggulinggkan Presiden RI setelah Kopolri yang tegas melawan intoleransi, radikakisme dan terorisme dicopot dari jabatannya.

Semua masyarakat sudah mengetahui bahwa; aksi anarkis dan brutal itu bukan dipicu oleh Kapolri beserta jajarannya. Tetapi, rentetan persoalan itu dimulai sejak provokator jalanan ini secara terstruktur, sistematis dan masif mengatakan pemilu curang. Padahal, saat itu pemilunya belum dimulai. Dan, sudah dikatakan curang. Lebih bodohnya lagi, provokator jalanan ini justru berani mengatakan pemilu curang secara terstruktur, sistematis dan masif. Faktanya, provokator jalanan itu sendiri yang secara terstruktur, sismatis dan masif mengkampanyekan pemilu curang.

Oleh karena itu, sangatlah naif jika provokator jalanan itu mengkambing hitamkan Kapolri dari rentetan persoalan yang terjadi karena sebab akibat yang dibuatnya sendiri. Karena, semua peristiwa yang terjadi saat ini adalah sebuah mata rantai pemilu. Dan, tidak bisa dipisahkan begitu saja.

“Kalau kita mau bicara obyektif, maka seharusnya kita meminta pertanggung-jawaban Gubernur DKI. Karena, aksi anarkis dan brutal yang berakhir rusuh terjadi diwilayah hukum Provinsi DKI Jakarta. Dan, seharusnya Gubernur DKI Jakarta sudah koordinasi dari awal dengan Polri TNI untuk mengantisipasi para perusuh dari luar kota yang ingin memporak-porandakan DKI Jakarta. Karena, sudah kewajiban Gubernur DKI menjamin keamanan dan kenyamanan warganya”, tutup Haidar.

(Manto)