GUS NURIL BERSAMA KH. WAHID MARYANTO ADAKAN HALAL BIHALAL DIPONDOK PESANTREN SOKO TUNGGAL

0
181

METROPERS.COM, (13/06/2019)

Halal Bihalal yang diselenggarakan oleh Majelis Taman Sari bersama Gus Nuril dan KH Wahid Maryanto yang dilaksanakan di Pesantren Abdurahman Wahid Sokotunggal, Cipinang, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (13/06/19).

Acara pembukaan dengan Tausiah yang dibuka kegiatannya oleh Abah Nuril.

Yang hadir di acara ini Habib Faroji dari PBNU, saudara Kita dari Gaza Fatma, Apriyanto dari Forum Persaudaraan Umat Beriman, Slamet Supriyadi dari Sinar Mas, Prof Situasi dll.

Gus Nurul memberi sambutannya
Kepada saudara saudaraku yg hadir, selain meminta maaf Gus Nuril juga menceritakan sejarah tradisi halal bihalal usai merayakan Idul Fitri yang berkembang di Indonesia.

Dikatakan Gus Nuril, penggagas istilah “halal bihalal” adalah salah seorang pendiri NU, yaitu KH Abdul Wahab Chasbullah. Diawali pada 1948, Indonesia dilanda gejala disintegrasi bangsa. Para elit politik bersilang pendapat, enggan duduk dalam satu forum untuk mencari solusi terbaik bagi bangsa. Pemberontakan juga terjadi di sejumlah daerah.

“Di pertengahan Ramadan 1948, Bung Karno meminta pendapat dan saran KH Wahab Chasbullah untuk mengatasi kebuntuan situasi politik Indonesia saat itu. Kemudian Kiai Wahab memberi saran kepada Bung Karno untuk menyelenggarakan silaturahim,” jelas Gus Nuril.

Gus Nuril lalu mencontohkan percakapan Kiai Wahab. “Para elit politik tidak mau bersatu, itu karena mereka saling menyalahkan, dan itu dosa. Dosa itu haram. Supaya mereka tidak punya dosa (haram), maka harus dihalalkan. Mereka harus duduk dalam satu meja untuk saling memaafkan, saling menghalalkan. Sehingga silaturrahmi dipakai istilah halal bihalal,” tutur Gus Nuril

Dari saran Kiai Wahab itulah, lanjut Anas, kemudian Bung Karno pada Hari Raya Idul Fitri saat itu mengundang semua tokoh politik untuk datang ke Istana Negara menghadiri silaturrahmi yang diberi judul ‘Halal Bihalal’.

Sejak saat itulah, seluruh instansi pemerintah menggelar halal bihalal yang kemudian diikuti juga masyarakat secara luas. Jadilah itu sebagai kegiatan rutin dan budaya Indonesia saat merayakan Hari Raya Idul Fitri sampai sekarang.

“Untuk itu, Idul Fitri ini harus kita jadikan pula momen untuk untuk saling memperkuat ikatan kekeluargaan bangsa Indonesia. Kita harus bersatu membangun daerah dan bangsa ini, saling memaafkan saudaranya. Sekaligus, mari kita doakan Presiden Soekarno dan KH Wahab Chasbulla yang berperan penting dalam tradisi saling memaafkan umat ini. Alfatihah,” ajak Gus Nuril mengajak seluruh yang hadir membacakan surat Alfatihah untuk Bung Karno dan KH Wahab Chasbullah.

Momen halal bihalal di lingkungan pondok pesantren Soko Tunggak disambut antusias oleh para jemaah.

(Manto)